Blog dan tulisan seorang ibu

Sharing is Caring

Barefoot

Published last year in Review - 0 Comments

Karena bulan ini saya tetapkan sebagai bulan melow, tontonannya pun sesuai. Melow abissss… tidak sepenuhnya bener sih, karena saya memang pecinta drama romantis dan komedi romantis. Tidak termasuk drama Korea lho. Bukan apa-apa, namanya susah diingat trus mukanya juga kayaknya kok sama semua. Hehehehe. Kali ini saya pengen review salah satu drama romantis yang saya suka. Nah, saya kalau suka dengan suatu film, biasanya gak pernah bosen nonton berulang kali. Salah satu yang saya maksud adalah Barefoot.
Yuuukkkkk mareeee kita mulai review. Barefoot adalah salah satu film Amerika karya Andrew Fleming yang dirilis tahun 2014. Film ini menarik menurut saya karena merupakan kisah cinta seorang pria yang belum menemukan tujuan hidupnya, dengan seorang gadis lugu polos yang sendirian. Itu saja? No, sang pria adalah anak orang kaya yang melarikan diri sedangkan sang gadis adalah pasien rumah sakit jiwa. What?!
Emang nggak ada cewek laen apa??? Bukan gituuuuu… Jay Whealler (Scott Speedman) adalah pria tampan, berpendidikan dan dari keluarga kaya. Pasti banyak dong ya cewek yang suka padanya. Gak hanya gadis muda yang menggilai Jay. Emak-emak kece juga banyak yang jatuh dalam pelukan Jay. Gaya hidup Jay yang suka foya-foya dan main perempuan bertentangan dengan prinsip dalam keluarganya… ia sering cekcok dengan sang ayah yang berujung kaburnya Jay ke kota lain. Di tempat baru inilah ia bekerja sebagai tukang pel disebuah rumah sakit jiwa dan bertemu dengan Deasy (Evan Rachel Wood).

Siapakah cewek cantik lugu yang langsung membuat Jay terpana pada pandangan pertama ini? Ia adalah puteri tunggal dari seorang ibu penderita Skizophrenia. Deasy tak pernah sekolah, maupun keluar rumah. Dunianya adalah ibunya, seorang penderita Skizophrenia. Ia bisa membaca dan menulis serta mengerjakan segala pekerjaan rumah karena diajari oleh ibunya. Saat ibunya meninggal, semua orang menduga Deasy yang membunuh ibunya, karena aku itu ia dimasukkan ke RSJ. Deasy jarang menggunakan alas kaki (barefoot) dengan alasan kakinya sering merasa tak nyaman. Hhhhmmm…..

Film ini memang tak hanya menampilkan adegan romantis, tapi juga banyak kejadian dan percakapan lucu yang segar. Nggak monoton. Bayangin aja gimana Jay yang berpendidikan tinggi dan terbiasa hidup bebas harus berkomunikasi dengan Deasy yang bagai katak dalam tempurung. Begitu banyak yang mereka lewati hingga Jay menyadari bahwa ia jatuh cinta pada Deasy. Jay yang tak percaya cinta dan hanya tunduk pada nafsu akhirnya luluh pada Deasy yang belum pernah merasakan cinta sebelumnya. Perjalanan mereka kabur bersama dari rumah Jay saat pesta pernikahan adik Jay diliputi banyak rintangan. Hingga akhirnya Jay memutuskan untuk bertindak dewasa dan tidak lari lagi untuk selamanya.

Saya terbiasa melihat Scott Speedman berakting laga. Apalagi dalam film-filmnya yang bertema vampir seperti perannya sebagai seorang Lycan (Michael) dalam Underworld. Iiiihhh keren loh! Dengan tubuh seatletis Scott, saya awalnya ragu melihat doi hadir dalam drama romantis. Sebagai lakon pulak! Tapi Scott memang profesional, dan membuktikan mampu berakting untuk semua peran. Hebat yah!

Gimana akhirnya? Nonton aja deh, dijamin nggak nyesel. Hapy ending memang, tapi yang bikin seru adalah perjalanan dan setiap kejadian yang menyatukan Jay dan Deasy. Film ini mengajarkan kita banyak hal. Salah satu yang paling saya suka adalah, tidak ada yang tak mungkin dalam hidup ini. Juga tak ada yang namanya kebetulan. Segala yang terjadi dalam kehidupan kita, dengan siapa kita bertemu, hal pahit manis apa saja yang menghampiri hidup kita, semuanya sudah masuk dalam rangkaian rancangan indah Tuhan bagi hidup kita. Karena itu, berbuat baiklah senantiasa, hargai sesama dan nikmati hidup tanpa menyusahkan orang lain. Selamat menonton….