Blog dan tulisan seorang ibu

Sharing is Caring

Gejolak Sekolah “Baru”

Published last year in Umum - 0 Comments

Sudah hampir dua minggu berlalu untuk tahun ajaran baru 2017. Puteraku juga sudah hampir dua minggu belajar disekolah barunya. Benar-benar baru? Sebenarnya tidak juga. Puteraku masuk Sekolah Dasar yang masih satu yayasan dengan TK nya dulu. Suasana dan teman-teman sebagian besar masih sama. Yang baru hanyalah kelas dan gurunya. Antusiakah dia? Oh iya! Sangat antusias, bahkan jauh sebelum lulus TK. Seneng deh lihat dia begitu semangat. Saya pun dengan semangat menjadi ojek cinta buatnya!

Saat berbaur dengan seluruh siswa disekolahnya, terlihat sekali kalau dia murid baru. seragam baru, tas dan sepatu baru pula. Hampir semua teman-teman seangkatannya seperti itu. Bukankah memang demikian yang biasanya terjadi? Bahkan tak hanya siswa kelas 1. Hampir pasti ada yang baru dari semua siswa kelas berapa pun itu. Entah sepatu, entah tas, buku( kalo ini mah emang perlu), aksesoris dan lain sebagainya. Melihat semua itu, dalam hati saya bertanya, apakah harus baru?

Seingat saya, jaman sekolah dulu dikampung hanya anak-anak dari keluarga terpandang saja yang selalu gonta ganti perabot sekolah.¬† Saya? cukup berpuas diri dengan perabot lungsuran dari kakak-kakak tercinta. Masalah prestasi jangan ditanya, karena memang gak ada hubungannya. Saya¬† selalu tampil dideretan siswa berprestasi dengan sepatu butut dan baju kekuningan (gak malu pula). Saya kemudian berusaha bertanya kepada diri sendiri, apakah saya sanggup melihat anak saya berlenggang di kelas barunya dengan baju tidak baru? hhhhmmmm…Dengan berat akhirnya saya mengakui bahwa tidak sanggup! Saya adalah ibu-ibu pada umumnya, yang ingin anaknya tampil OK. Kalo liat anak secara fisik sudah OK, hati ayem. Memang segala sesuatunya tidak harus baru. Seperti saat hari raya, entah Lebaran entah Natal, toh selalu berbaju baru kan? Harus? Tidak! Tapi inginnya begitu! Nah, yang berperan disini adalah keinginan kita.

Tidak salah menuruti keinginan diri. Toh tak ada yang melarang selama tak merugikan orang lain. Tapi sebagai orang tua, saya mengajak kita semua untuk bijak dalam bertindak. Mengawali suatu momen penting anak dengan yang selalu”baru” tidak melulu berdampak positif. Anak dapat berpikir untuk membuang atau menyia-nyiakan barang miliknya yang lama walau masih bagus dan dapat dipakai. Selain itu dapat menumbuhkan karakter konsumtif pada anak sejak dini. Tentu hal ini tidak kita inginkan bukan? Mari ajarkan pada anak untuk menghargai semua barang yang ia miiliki walau tanpa ‘label’ baru. Kedepannya mereka akan paham akan nilai guna suatu barang, dan benar-benar membeli yang baru saat membutuhkannya, bukan saat menginginkannya. Semoga anak-anak kita tumbuh menjadi kebanggaan keluarga!