Blog dan tulisan seorang ibu

Sharing is Caring

Kembali Padamu

Published last year in Cerpen - 0 Comments

Saat orang lain dengan bangganya bercerita tentang Ayah mereka, aku hanya terdiam. Bukan karena aku tak punya cerita, melainkan ceritaku bertolak belakang dengan cerita mereka. Saat orang lain mengunggah foto mesra penuh kasih sayang dengan Ayah mereka, aku pun tak bergeming. Bukan karena aku tak punya foto Ayahku, melainkan aku tak sering memandangi wajah Ayahku dalam foto itu walau kami terpisah jarak yang jauh. Saat orang lain menelepon dan berbicara manja dengan Ayah mereka, aku pun tak terlalu peduli. Bukan karena Ayahku tak mempunyai ponsel, tetapi tak ada keinginan kuat dalam diriku untuk mendengar suaranya. Ayah, apa yang kuingat tentang dirimu? Hanya arogansi, tatapan angkuh, dan suara keras yang mengusik hati ini.

Bagi anak perempuan lain, Ayah adalah cinta pertama dalam hidupnya. Bagiku, Ayah hanyalah laki-laki pertama dalam hidupku. Semua yang kualami dan rasakan dengan Ayah, membuatku sangat beryukur memutuskan kuliah di tempat yang jauh dari rumah. Apa yang sudah ia perbuat padaku? Ia selalu membangunkanku dengan suara kasar setiap pagi untuk segera ke sekolah. Seolah aku layak diperlakukan seperti itu. Aku toh tahu, aku memang harus ke sekolah. Apa yang sudah ia lakukan terhadapku? Sama sekali tak ada pujian dari bibirnya, untuk setiap prestasi yang aku raih dari kecil hingga lulus SMU. Prestasiku sangat kubanggakan. Selalu rangking 1, menang disetiap lomba cerdas cermat, juara di setiap even yang kuikuti. Layaklah aku bangga, meskipun ia terlihat tidak.

Apa yang dia lakukan? Ayah memarahiku habis-habisan saat aku pulang dengan baju penuh coretan setelah pengumuman kelulusan. Katanya, bajuku rencananya akan ia sumbangkan pada orang yang masih membutuhkan. Mengapa orang lain yang ia pikirkan? Bagaimana perasaanku? Tak layakkah aku sedikit bersenang-senang dengan teman-temanku setelah berjuang sedemikian kerasnya utuk lulus? Hey! Teman-teman itu juga yang belum tentu aku jumpai lagi di kemudian hari. Apa saja perbuatannya? Ia berkali-kali pernah mengusirku dari rumah, jika tidak menuruti perintahnya. Perintah untuk makan walaupun aku belum merasa lapar di saat jam makan. Perintah untuk belajar walau aku sedang tak ingin belajar. Perintah untuk melakukan pekerjaan rumah padahal aku sedang malas dan hanya ingin bersantai dikamar. Aku memang akan pergi darinya. Jika saat itu tiba, aku bertekad tak akan ada air mata untuknya.

Aku ingat betul, rasanya begitu bahagia saat pertama kali berada jauh dari rumah. Aku sibuk dan menikmati kesibukanku. Sangat menikmati hingga larut didalamnya. Rasanya seperti bebas dari belenggu yang mengekang. Aku tak pernah berbuat hal-hal yang negatif. Aku suka bersenang-senang, tapi aku juga tak ingin merusak diri sendiri. Aku tahu dengan siapa dan dimana harus bergaul serta mencari teman. Aku pandai dalam menjaga diriku. Aku berada ditempat baru, suasana baru, teman-teman baru, pengalaman baru, serta budaya yang baru. Aku merasa asing tapi bahagia. Aneh memang. Saat semua teman satu indekost menagis dan bersedih harus terpisah dengan orang tua serta keluarga, aku hanya diam sambil tersenyum dalam hati. Aku bahagia!

Waktu bergulir dan empat smester telah berlalu. Aku belum pernah sekalipun mudik. Nilai-nilaiku sangat memuaskan. Jujur, aku memang belajar dengan tekun. Karena itu saat liburan tiba, aku mengisinya dengan berwisata dengan teman-temanku. Beberapa kali Ibu menelpon meminta aku pulang karena mereka merindukanku. Aku juga merindukan Ibu. Tapi rasa benciku pada Ayah berhasil mengalahkan rinduku pada Ibu. Aku menghibur beliau dengan mengatakan suatu saat aku pasti akan pulang. Aku memang akan pulang. Kapan? Entahlah. Yang pasti saat hati ini sudah ikhlas menerimamu dengan segala apa adanya dirimu, Ayah.

Delapan smester berlalu dan aku berhasil menyelesaikan kuliah dengan nilai memuaskan. Ayah dan Ibu hadir saat wisuda. Ibu begitu gembira dan haru bertemu kembali denganku setelah empat tahun. Aku menatap Ayah. Ia tersenyum. Hanya itu. Aku semakin kecewa. Tak ada pujian atas kelulusanku, tak ada pelukan tanda rindu padaku, tak ada perubahan seperti yang kupikirkan. Terserahlah, aku hanya perlu fokus pada babak baru kehidupanku. Masuk dunia kerja.

Karena diterima di sebuah perusahaan bergengsi, aku tak bisa pulang kampung setelah wisuda. Banyak hal yang harus kuselesaikan sebelum mulai bekerja. Dengan sedih aku memeluk Ibu dan berjanji akan segera pulang saat mendapat kesempatan mudik. Ayah? Biarlah ia dengan apa yang ada dikepalanya. Aku tak mau tahu.

Baru sebulan bekerja, aku mendapat kabar Ibu jatuh sakit. Hatiku nelangsa. Aku menelpon, dan untuk pertama kalinya aku langsung menghubungi nomor telepon Ayah. Di seberang sana aku seperti mendengar suaranya memintaku pulang. Aku mendengar suara hatinya memintaku pulang. Padahal ia tidak mengatakannya. Ia hanya mengatakan ibu sakit keras. Suaranya terdengar berat. Ia seperti berusaha menahan tangis. Ia tak tahu, aku benar-benar telah menagis. Entah mengapa aku menangis. Sudah sangat lama tidak merasakan air mata mengalir di pipiku. Aku menangis, apakah karena ibu sakit? Mungkin. Aku menangis saat pertama kali mendengar suara ayah menjawab telepon. Air mata langsung mengalir begitu saja. Aku pun kaget. Aku akan pulang besok pagi. Hanya itu kalimatku menutup pembicaraan.

Menunggu besok terasa begitu lama. Aku tak bisa tidur. Aku memikirkan Ibu, aku juga memikirkan Ayah. Untuk pertama kalinya aku menduga, aku merindukan Ayah. Tapi pikiranku tak menyukai hal ini. Ia bukan Ayah yang aku inginkan. Bukan seperti dia. Aku ingin seperti anak perempuan lain. Bisa bermanja, memeluk, mencium dan bergelayut di tubuh Ayahnya dengan nyaman. Sedangkan aku? Melihatku pun sepertinya ia tak sudi. Air mataku kembali mengalir. Aku tak suka ini. Aku tak suka menangis untuk Ayah. Ia tak pantas mendapatkan setetes pun air mata ini. Tapi semakin aku membendungnya, semakin deras air mata ini mengalir. Ada ruang kosong yang semakin terasa hampa. Aku mulai terisak tak bisa menyembunyikan perasaanku dalam kesendirian. Aku tak mampu membohongi diri sendiri. Untuk sesuatu yang tak kuinginkan sekalipun. Aku merindukanmu, Ayah!