Blog dan tulisan seorang ibu

Sharing is Caring

Memandang Hidup, Sempurnakah?  

Published last year in Umum - 0 Comments

 

Ada saat-saat tertentu saya merasa ssebagai pribadi yang perfeksionis. Saat sedang berniat mendapatkan sesuatu, saat sedang ingin membantu dan membuat terkesan orang yang spesial, saya sering bertindak sempurna. Walaupun tentu saja belum sempurna, tapi saya berusaha keras untuk itu. Apakah saya tergolong individu perfeksionis?

                Baiknya kita pahami dulu apa yang dimaksud dengan perfeksionis. Berdasarkan Kamus Bahasa Indonesia Online, perfeksionis berarti orang yang menginginkan segala-galanya sempurna. Perlu digarisbawahi, segala-galanya sempurna. Bukan hanya satu atau hal tertentu saja, tapi segala hal harus sempurna. Hhhmmm, sampai disini saya langsung menyimpulkan kalau saya sepertinya bukan masuk kategori itu. Karena saya hanya ingin sempurna untuk suatu keadaan tertentu saja.

                Apa saja sih sebenarnya ciri individu perfeksionis? Seorang guru besar dan psikolog di Amerika berpendapat, sifat prefeksionis dapat terlihat dalam beberapa hal.

1.       Mudah merasa sebagai pribadi gagal saat mengetahui orang lain dapat melakukan yang lebih baik dari dirinya.

2.       Mengerjakan segala sesuatu relatif lebih lama karena mengecek berulang kali memastikan segala sesuatunya sudah sempurna.

3.       Biasanya, memiliki orang tua dengan standar penilaian yang tinggi. Standar tinggi inilah yang secara langsung dan tidak langsung mendorong anak menjadi perfeksionis.

4.       Mengutamakan kerapian pekerjaan. Kerapian disini mengandung arti rapi secara berlebihan dan menuntut segala sesuatu harus benar-benar tertata dengan rapi.

5.       Standar penilaian yang lebih tinggi dari individu lain pada umumnya.

Dari lima hal yang disebut diatas, saya merasa semuanya tidak ada yang buruk. Hhhmmmm….baik atau buruk sih sebenarnya memiliki sifat perfeksionis itu? Lihat dampaknya saja. Jika semua yang anda lakukan membawa salah satu atau semua dampak dibawah ini, sebaiknya segera berupaya meninggalkan sifat perfeksionis.

1.       Depresi. Biasanya diakibatkan oleh penetapan standar yang tinggi dalam menilai hasil karya. Orang lain melihatnya bagus, tapi individu perfeksionis malah mencari cela. Inilah yang kemudian mendatangkan depresi.

2.       Agresi. Rasa tidak puas terhadap hasil kerja atau karya baik diri sendiri maupun orang lain adalah pemicunya. Tak jarang karena ketidakpuasan ini memancing keinginan untuk menyalahkan orang lain dan berlanjut pada agresi fisik.

3.       Stress. Perlu diwaspadai bahwa stress yang berkepanjangan akan meningkatkan prosduksi hormon kortisol dan berdampak merugikan kesehatan.

4.       Menyakiti diri sendiri. Tak hanya agresi fisik dan menyalahkan orang lain saja. Individu perfeksionis juga dapat menyakiti dirinya sendiri karena rasa bersalah dan gagal yang luar biasa.

5.       Kualitas hidup rendah. Keempat hal diatas tentu saja tidak membawa pengaruh positif. Justeru akan membuat anda menderita dan memiliki kualitas hidup yang rendah. Sayang sekali bukan?

Pada tingkatan yang lebih serius, individu perfeksionis mulai menilai hidupnya. Sempurna dan tidak sempurna, pilihannya. Padahal kita semua tahu, tak ada segala sesuatu yang sempurna dalam hidup ini. Mencari kesempurnaan hanya akan mendatangkan penderitaan. Terapis Dr. Alisa Hoffman mengatakan bahwa perfeksionisme hanya akan mengarahkan individu pada tingkat kecemasan yang tinggi, rendah diri, serta rating yang rendah dalam kualitas hidup. Masih menurut beliau, orang-orang akan terjebak untuk menjadi sempurna, padahal mereka justeru kehilangan gambaran yang lebih besar dari berkat-berkat dalam hidup. Semua orang seharusnya tahu, mencapai kesempurnaan adalah sesuatu yang mustahil. Tak hanya itu, Julia Cameron berpendapat perfeksionisme bukan pencarian terbaik. Hal itu justeru akan mengejar yang terburuk dari diri kita sendiri.

 

Saya memang bukan psikolog apalagi terapis. Bergulat dengan diri sendiri untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari pun masih susah. Lebih banyak saya kalah dari pada menang dalam melawan diri sendiri. Tapi kembali lagi, hidup bukanlah tentang tujuan melainkan proses. Menjalani proses setahap demi setahap itulah yang membuat kita menikmati indahnya hidup. Saat kalah saya tidak malu mengakui bahwa menagis sesaat. Hanya sesaat. Jangan berkepanjangan. Menangis tidak selalu menunjukan sisi lemah diri kita. Menangis aku butuhkan untuk sekedar melepas segala yang menyesakkan hati. Karena itu, sebentar saja jangan lama-lama. Kelamaan malah berujung drama, curhat sana sini dan bongkar rahasia di medsos. Enggak banget! Saat menang saya berusaha ingat untuk bersyukur. Walau masih sering lupa dari pada ingatnya. Bersyukur masih menikmati hidup, masih hidup, dan masih diberi kepercayaan mendiami tempat hidup ini. Dan tulisan saya ini yang sangat jauh dari sempurna, saya rangkai dalam kantuk, ingin segera memeluk bantal empuk, terbang ke alam mimpi, melepas penat, agar bangun esok pagi dengan bugar dan penuh syukur. Mari istirahat dengan rasa syukur. Tuhan memberkati!