Blog dan tulisan seorang ibu

Sharing is Caring

Nights in Rodanthe

Published last year in Review - 0 Comments

Banyak memang film drama romantis yang diadaptasi dari novel Nicholas Sparks. Banyak diantaranya yang mendulang sukses besar, tapi ada juga yang kurang mendapat tempat di hati pecinta drama romantis. Tiap orang punya alasan sendiri. Demikian juga saya. Bagi saya, semua filmnya oke punya. Udah menjadi rahasia umum kalo antara film dan novelnya pasti lebih bagus novel. Saya pun mengamini hal itu.

Tapi tidak demikian dengan The Best of Me, salah satu novel karya Nocholas Sparks yang kemudian difilmkan dengan judul yang sama. Menurut saya, bagusan film nya. Beberapa scene dalam film justeru terlihat lebih natural dan nggak membosankan dibandingkan cerita dalam novelnya. Oke, kita tinggalkan karya Nicholas yang lain dan beralih ke Nights in Rodanthe. Review yuuuuukkkk.

Ini novel udah lama banget, tahun 2002 terbitnya. Filmnya juga udah jadul,dirilis tahun 2008. Tapi masih sering diputar dibeberapa tv kabel hingga sekarang. Saya pun nggak bosan nonton berulang kali. Hehehehe. Film ini bercerita tentang Adrianne Willis (Diane Lane) dan Paul Flanner (Richard Gere) yang bertemu disuatu kota terpencil Rodanthe, Carolina Utara. Mereka bertemu saat keduanya berada di titik terendah dalam kehidupan mereka masing-masing.

Adrianne sedang mengalami kehidupan rumah tangga yang porak poranda setelah suaminya berselingkuh. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Nah, kali yang terakhir ini ia tak yakin apakah ingin memaafkan dan mempertahankan rumah tangga mereka atau tidak. Dua orang anaklah yang membuatnya bertahan selama ini. Sementara itu Paul, seorang dokter bedah terkenal, diliputi perasaan bersalah akibat meninggalnya seorang pasien di meja operasinya. Tak hanya itu, hubungan dengan puteranya yang juga seorang dokter bedah tidak berjalan baik. Isterinya pun meninggalkan Paul.

Latar belakang masing-masing yang tidak menyenangkan membuat mereka awalnya sulit membuka diri satu terhadap yang lain. Berawal dari tawaran sahabat karibnya untuk menjaga penginapan di Rodanthe sekalian menenenangkan diri dan berpikir kembali tentang hdiupnya, Adrianne bertemu Paul. Paul datang sebagai tamu di Rodanthe karena ingin meminta maaf pada suami wanita yang meninggal tersebut. Ia berbesar hati meninggalkan egonya sebagai dokter bedah terkenal, untuk minta maaf.

Suatu malam terjadi badai, sehingga keduanya terpaksa menghabiskan malam berdua dalam penginapan tersebut. Mereka berbicara dari hati ke hati, dan kemudian menyadari bahwa keduanya saling menyimpan rasa satu terhadap yang lain. Adrianne yang sebelumnya selalu murung dan bersedih mulai banyak tertawa. Ia terlihat bahagia. Paul pun yang semula terlihat penuh emosi dan gampang marah, mulai stabil dan murah senyum.

Bagaimanapun bahagianya mereka menikmati malam demi malam di Rodanthe, toh mereka harus kembali pada kehidupan masing-masing. Adrianne kembali pada anak-anaknya, tapi tidak pada suaminya. Paul pergi menemui puteranya yang sedang bertugas di suatu daerah terpencil untuk memperbaiki hubungan ayah anak tersebut.

Cerita selanjutnya kita nikmati lewat rangkaian surat yang saling mereka kirimkan. Ending cerita ini emang nggak hepi. Bikin sedih lho ini. Awalnya saya kira mereka akan menyatu dan bahagia selamanya. Ternyata Nicholas punya cara tersendiri membuat penikmat ceritanya tersentak.

Saya suka saat-saat Adrianne pulang dari Rodanthe dan kembali berkomunikasi dengan anak-anaknya. Ia bahagia dan anak-anaknya mendapat imbas dari kebahagiaannya. Disini saya merasakan betul bagaimana ‘waras’nya seorang ibu memberi dampak yang luar biasa pada pribadi anak. Karena saya juga seorang ibu, saya tersentuh dengan perubahan Adrianne. Ia sebelumnya yang sering bersedih, secara otomatis anak-anaknya juga tidak memiliki hati yang gembira dan tenang. Mereka bahkan lebih sering membantahnya padahal anak-anak itu sangat mencintai Adrianne. Nah, saat ia kembali dan membawa aura bahagia itu, hubungan ia dan anak-anak menjadi harmonis. Usahakan tetap waras ya para emak sedunia. Kita adalah jantung dalam keluarga.

Walaupun udah jadul, tapi masih ada nilai moral yang bisa kita ambil dari film ini. Mempertahankan ego nggak akan membuat hidup kita bahagia, bahkan menyakiti yang sesungguhnya mencintai kita. Rendah hati tidak berarti menjadi orang rendahan kan? Kita juga berhak memilih untuk bahagia, karena bahagia sesungguhnya ditentukan oleh diri sendiri. Nonton sendiri deh romantisnya surat-surat Paul, serta ikatan batin yang kuat diantara mereka. Selamat menonton…