Blog dan tulisan seorang ibu

Sharing is Caring

Twin Peaks

Published last year in Stories - 0 Comments

Malam ini saya seperti nggak ada ide. Hanya keinginan untuk menulis saja yang ada. Nyalakan laptop, trus bingung mau nulis tentang apa. Oke, yuk kita review film. Hahaha, karena punya hobi nonton juga maka baiknya malam ini review salah satu film lawas. Ini film pertama kali saya tonton saat masih SMP. Saat itu dengan kondisi tv yang masih hitam putih, layar cembung dan ukuran kecil, saya sangat antusias menonton film ini. Twin Peaks, pernah dengar? Atau jangan-jangan anda salah satu yang juga menggemari film karya David Lynch dan Mark Frost ini?

Ini serial tv yang betul-betul menguras emosi. Bertempat di sebuah kota kecil bernama Twin Peaks, kehidupan masyarakatnya semula berjalan tenang dan normal. Berubah menjadi heboh tatkala Laura Palmer ditemukan tewas terbungkus plastik  di tepi pantai. Saya saat itu yang masih remaja kinyis-kinyis pun terkaget. Pemandangan Twin Peaks sangatlah indah. Tipikal kota kecil di Amerika yang masih asri tapi juga modern. Episode awal langsung dipertemukan dengan jenazah. Ampun deh….tapi inilah yang menjadi inti dari setiap permasalahan yang kemudian berkembang. Laura Palmer merupakan idola semua orang. Cantik, pintar, dari keluarga baik-baik. Semua orang menyayanginya namun tentu ada beberapa yang membecinya.

Banyak serial tv yang berkembang menuju ketidakjelasan. Sampai ratusan episode tapi masalah utama yang ada tidak pernah selesai. Endingnya pun selalu bisa ditebak. Tidak demikian dengan David Lync dan Mark Frost. Mereka membuat Twin Peaks memiliki banyak penggemar. Termasuk saya tentu saja. Kematian Laura Palmer adalah justru titik tolak dari terbukanya kondisi sebenarnya masyarakat Twin Peaks. Ternyata oh ternyata kota asri itu adalah kumpulan orang-orang bermuka dua. Bagaimana tidak, setiap orang dalam film itu memiliki dua sisi kehidupan yang berbeda. Saya yang menonton menjadi gemas sekaligus kaget.

Sampai disini saya setuju dengan duet David-Mark. Bagaimana tidak, dalam diri setiap kita memang selalu ada dua sisi. Yin dan Yang. Baik dan jahat. Angel and Devil. Sisi mana yang dominan, itulah yang menjadi penentu siapa sebenarnya kita. Saya pernah mendengar sebuah perumpamaan. Dalam diri setiap manusia ada merpati dan ular. Tidak ada yang salah dengan dua binatang ini. Hanya merupakan simbol saja. Sejak lahir, apa yang kita pikirkan, rasakan dan perbuat, itulah yang menjadi ‘makanan’ bagi merpati dan ular. Input apapun yang kita terima menjadi makanan untuk merpati dan ular. Lama-kelamaan merpati dan ular akan menunjukkan ukuran tubuh yang jauh berbeda. Merpati bisa jauh lebih besar dari ular, begitu pula sebaliknya. Segala yang positif akan membuat merpati tumbuh besar dan gagah. Segala yang negatif akan membuat ular berubah menjadi raksasa yang kuat. Merpati melambangkan kebaikan, ular melambangkan kejahatan. Yang satu akan lebih menonjol dari yang lain. Yang satu dapat mendominasi yang lain. Yang satu akan terlihat seolah menutupi yang lain. Tapi, tetap dua ‘makhluk’ itu ada dalam diri kita. Tak bisa membinasakan salah satunya.

David-Mark sungguh lihai dalam memainkan emosi penonton. Tak hanya membuat cerita Twin Peaks melebar namun fokus, tapi tidak hanya berpusat pada kemelut Laura Palmer. Semua sedih, semua kecewa, semua memang merana dengan terbunuhnya gadis itu. Namun life must go on, kan? Terbukti masih banyak masalah yang bermunculan setelah kasus Laura Palmer. Dan yang paling menarik sekaligus menghentak saya adalah ending yang dibuat David-Mark. Hhhhhhmmmm…gaya khas mereka berdua ya, bikin sesuatu yang ga bisa ditebak. Akhirnya saya hanya bisa mengatakan, saya nggak setuju dengan endingnya. Saya maunya polisi akhirnya menemukan bukti bahwa pacar Laura yang membunuh gadis cantik itu. Tapi saya memang bukan David-Mark. Karena ending yang tidak terduga itulah Twin Peaks mampu merajai serial tv dijamannya. Tak sampai disitu, serial ini juga kembali diputar belasan tahun kemudian. Berarti penggemar setianya memang banyak kan? Saya inilah contohnya! Selamat menonton Twin Peaks. Di tv kabel masih diputar sampai sekarang lho. Saya pun masih setia menontonnya hanya sekedar mengobati rindu pada serial fenomenal itu. Selamat malam, selamat beristirahat!