Blog dan tulisan seorang ibu

Sharing is Caring

Walau Menyakitkan, Jujurlah!

Published last year in Review - 0 Comments

Kali ini memang seperti menulis review film. Tapi saya tidak fokus membahas jalan cerita dalam sebuah film. Kali ini saya pengen ngebahas sesuatu yang bernama kejujuran. Bukan jujur kacang ijo tapi ya.. Beberapa hari yang lalu saya nemu tayangan sebuah film yang dulu udah pernah ditonton. Tahun lalu kayaknya. Judulnya The Light Between Oceans. Kalo biasanya saya menyukai sebuah film karena lakonnya ganteng dan atletis (ini cuma salah satu alasan loh ya!), kali ini saya suka karena memang ceritanya benar-benar menarik.

Adalah Tom Sherboune (Michael Fassbender) seorang veteran Perang Dunia 1 yang memutuskan pulang ke Australia dan menjadi penjaga mercusuar di Janus Rock. Ia tinggal di Janus Rock bersama isterinya Isabel Graysmark (Alicia Vikander) yang begitu merindukan anak. Mereka telah tiga kali kehilang calon bayinya karena keguguran. Isabel sangat fustrasi. Ia terus berdoa dan seolah doanya ‘terjawab’ saat sebuah kapal kecil terdampar di Janus Rock. Kapal itu membawa seorang bayi perempuan dan seorang pria dewasa. Bayi itu hidup sedang pria itu sudah meninggal.

Sampai sini, apa yang kira-kira anda lakukan kalo jadi Isabel? Saya pasti langsung menjadikan bayi itu anak saya. Toh nggak ada yang dirugikan. Pria itu (entah siapa) sudah meninggal. Ini tengah laut bo! Nggak ada siapa-siapa. Jadi, bayi itu pantas jadi milikku. Tapi, benarkah nggak ada siapa-siapa membenarkan tindakan Isabel mengambil dan menjadikan bayi itu anaknya?

Saya teringat pesan orang tua, kalo nemu duit di jalan jangan diambil. Kenapa? Karena konon, itu duit ada ‘isi’nya. Itu duit pancingan, siapa yang ngambil bakal diambil nyawanya sebagai ganti. Bener nggaknya saya nggak tau. Tapi percaya banget! Hahahahah… Pikiran anak-anak saya, apapun yang terjadi, walau kepengen banget, jangan pernah ambil itu duit. Tindakan saya benar, tapi dengan alasan yang salah. Belum tentu kan itu duit ‘haram’. Bisa jadi itu uang milik seseorang yang sangat membutuhkan. Bukankah lebih masuk akal jika saya memungutnya dan menyerahkan pada petugas keamanan terdekat. Perkara yang punya datang nyari apa nggak, itu sudah jadi urusan si keamanan tadi. Nah, kalo duitnya gede okelah, kalo duitnya seribuan? Kayaknya malah ngerepotin yak? Hahahaha…

Duit tadi adalah analogi untuk bayi perempuan dalam kapal karam tadi. Dia anak siapa memang Isabel tak tahu. Tapi bukan berarti dia tak punya orang tua. Dia pasti punya seseorang atau lebih yang menangisi kepergiannya. Saya seorang ibu jadi bisa membayangkan sakitnya kehilangan anak. Dan memang benar. Saat Isabel dan Tom kembali ke kotanya untuk membabtis bayi itu (Lucy), Tom melihat sesuatu. Ia mengetahui ibu kandung Lucy. Ia adalah puteri seorang pengusaha kaya yang mendirikan Janus Rock. Ia adalah Hannah Roennfeldt (Rachel Weisz) yang teramat menderita, menangisi kepergian suami dan puterinya yang dinyatakan hilang dilaut. Kisah cinta Hannah dan suaminya terhalang restu keluarga Hannah. Mereka terus mengganggu suami malang itu, hingga suatu malam ia memutuskan pergi membawa bayi mereka dan hilang di laut.

Menonton film ini bikin saya mewek dalam durasi yang lama. Hahahaha…Why? Karena banyak hati penuh maaf dan lapang dalam cerita ini. Film ini menjadi salah satu film tanpa tokoh antagonis yang pernah saya tonton. Semua tokohnya baik walau dengan cara dan pemikiran yang berbeda. Dimulai dengan Tom yang kemudian memutuskan untuk menghubungi Hannah dan mengakui keberadaan Lucy. Awalnya saya seperti Isabel. Tergoda untuk diam dan menyimpan rapat rahasia itu. Tapi Tom tak bisa hidup dalam kebohongan. Ia tersiksa dan memilih jujur walau harus dibenci isterinya. Lucy diambil keluarga Hannah. Tom dipenjara dan Isabel merana dalam kesedihan.

Sekilas saya berpikir, seandainya Tom bisa diam, segalanya akan berjalan ‘normal’. Akan tetapi normal bagi saya tentu tak normal bagi Hannah. Ia sudah setahun menderita dalam tangis setiap hari. Adilkah kita bahagia diatas penderitaan orang lain? Tentu tidak! Itu yang belum dimengerti Isabel. Ia menyalahkan Tom atas kehilangan Lucy. Disisi lain, Lucy yang tinggal bersama keluarga barunya juga menderita. Ia menagis dan ingin kembali pada Isabel. Tapi Hannah tak menyerah dan ingin membuatnya bahagia.

Suatu malam Lucy hilang. Semua mencari dan akhirnya menemukan ia tertidur ditepi pantai. Saat itu Hannah dan keluarganya sadar, mereka tak bisa ‘memiliki’ Lucy. Hannah kemudian pergi menemui Isabel, mengatakan bahwa ia telah memaafkan tindakan Isabel yang ‘mencuri’ anaknya, dan akan membiarkan Lucy bersama Isabel. Ia hanya meminta Isabel bersaksi agar Tom tidak dipenjara lagi. Saya terharu dengan jiwa besar Hannah. Dia loh yang melahirkan Lucy. Tapi dia rela melepas anaknya untuk menjadi milik perempuan lain. Ia hanya ingin Lucy bahagia.

Isabel memang kembali bersatu dengan Tom. Tapi mereka berhasil menekan keingin kuat dalam diri mereka untuk mengambil Lucy dari Hannah, bahkan saat Hannah sudah mengikhlaskannya. Tom dan Isabel memutuskan untuk hidup berdua saja dan menikmati sisa hidup mereka dengan merindukan Lucy. Disini saya pun kembali kagum dengan jiwa besar Tom dan Isabel. Kesempatan emas didepan mata, ditampik. Semata-mata karena mereka sadar untuk tidak mengambil sesuatu yang bukan milik mereka untuk kedua kalinya. Sesuatu yang masih sulit saya lakukan.

Melihat kehidupan kita saat ini, karakter Tom, Isabel dan Hannah tentu sulit kita temukan. Sulit ditemukan, tapi bukan berarti pribadi seperti itu tak ada. Saya yakin banyak. Mereka hadir bisa saja dalam bentuk pribadi sederhana yang kita jumpai sehari-hari. Ada seorang kakek disekitar tempat tinggal kami yang sangat baik, namanya Mbah Sumeni. Seminggu sekali ia pergi ke kebun mertua saya, dan mengambil hasil panen kemudian diserahkan pada kami. Ia tidak meminta imbalan. Jika jahat, bisa saja ia jual atau makan sendiri tanpa sepengetahuan kami. Tapi ia adalah ‘Tom dan Isabel’ yang tidak menginginkan segala sesuatu yang bukan miliknya. Ia tulus, ia juga iklas. Yang terpenting ia Jujur!

Dunia yang kita tinggali sekarang adalah dunia dengan kehidupan yang keras. Tapi bukan tidak mungkin kita dapat menjalaninya dengan manis. Hati yang memaafkan adalah hati seluas samudera. Mampu menyimpan segala sesuatu secara melimpah tapi tak lupa memberi kebaikan. Memilih bertindak jujur memang tidak mudah. Ada konsekuensi yang menyertainya. Tapi ingatlah, setiap kejujuran walaupun berliku tapi selalu berbuah manis. Jujur dan Maaf itu biasanya temenan deket. Jujur mengakui segala sesuatu, berjiwa besar minta maaf dan menaggung akibat, menjalani resiko dengan hati lapang, biasanya hepi ending. Selalu? Mungkin tidak! Apa sih yang pasti dalam hidup ini? Dalam kehidupan yang serba tidak pasti ini, jalani dengan jujur agar enteng, bebas dan ringan saat kaki ini melangkah. Selamat malam, selamat istirahat.