Blog dan tulisan seorang ibu

Sharing is Caring

Yang Berlalu Tak Akan Berlalu

Published last year in Umum - 0 Comments

Tyas masih terbuai di alam mimpi saat keributan itu membangunkannya. Ia kaget bukan karena suara itu tak ia kenal. Ia kenal suara menggelegar itu. Sangat kenal malah. Dengan malas Tyas membuka mata sekedar melirik jam weker di meja belajar disampingnya. Jam tiga pagi! Ya ampun. Sepagi ini sudah membangunkan seisi rumah? Bahkan Sony pun ia yakin sudah terbangun dengan gelegar suara itu dipagi sebuta ini.

Sarapan pagi ini diwarnai raut wajah ayah yang tak sedap dipandang. Tyas dan adiknya Rafa bukannya asing dengan hal ini. Mereka hanya bertanya-tanya dalam hati. Kenapa lagi kali ini? Apa yang membuat Ayah naik pitam hingga marah dipagi buta dan merengut di meja makan. “Habiskan makanan kalian!” Ayah membentak sambil meninggalkan meja makan, tak membiarkan Tyas dan Rafa mencium tangannya sebelum berangkat sekolah. “Kunci semua pintu sebelum berangkat!” Ayah berlalu tanpa peduli pakaian kantor yang ia kenakan masih kusut. Rafa dan Tyas saling pandang. Ayah sudah berangkat ke kantor, saatnya mereka pun ke sekolah. Tak ada lagi selera pada hidangan ayah untuk sarapan kali ini. Lebih baik segera bersiap agar tak terlambat tiba disekolah.

Pelajaran Kimia di jam pertama hari ini tak biasanya Tyas kehilangan fokusnya. Sedari tadi ia hanya mencoret dibuku sketsa sambil memainkan rambutnya. Wiwin sahabatnya gemas. “Emang sih kamu cerdas. Dari SD sampe sekarang SMU selalu ranking 1.” Tyas tahu Wiwin menyindirnya. Tyas hanya menengok sekilas seraya tersenyum kecil. “Kangen Ibu.” Tyas berbisik lirih sambil menyerahkan hasil coretannya ke hadapan Wiwin. Ia menggambar wajah ibunya. Wiwin menatapnya haru. Ingin ia memeluk sahabat baiknya itu. Mereka telah saling mengenal sejak kecil. Bahkan rumah mereka pun berdekatan. Wiwin tahu, setahun belakangan ini adalah saat terberat dalam hidup sahabatnya. Ibunya meninggal karena kecelakaan.

Hari Sabtu pun tiba. Rafa dan Tyas pulang lebih awal. Ayah libur dan biasanya Ayah ada dirumah saat mereka pulang sekolah. Saat ada Ibu, hari Sabtu adalah hari paling menyenangkan buat mereka. Jalan-jalan berempat ke tempat hiburan atau sekedar bersantai bersama dirumah sambil menikmati masakan Ibu yang lezat. Suana sangat riang dan Ayah tak pernah marah. Bahkan Sony, anjing peliharaan Rafa pun sangat menyayangi Ayah. Itu dulu. Tidak sekarang. Ayah berubah sejak kepergian Ibu. Tyas tahu Ayah sedih. Tapi Ia dan Rafa juga sedih. Ah Ibu, seandainya kau tak pergi…Rafa dan Tyas melihat Ayah sedang sibuk dengan laptopnya. Mereka langsung masuk kamar masing-masing dan bersiap menghabiskan Sabtu sendiri. Tanpa mereka sadari Ayah melirik kepergian mereka berdua sejenak dan mulai mematikan laptopnya. Rafa sedang mendengarkan musik dari ponselnya ketika Ayah masuk. Ia heran karena sejak kepergian Ibu, Ayah jarang masuk ke kamarnya maupun Tyas. Berbicara pun seperlunya saja. “Udah lama nih Sony nggak jalan-jalan.” Ayah berujar sambil berdiri didepan pintu. Rafa menatap Ayah. Bingung. Sony memang anjing milik Rafa, hadiah ulang tahun dari Ibu dua tahun yang lalu. Saat itu ia masih kelas enam SD. “Ayah mau menemanimu mengajak jalan Sony  sekarang.” Rafa masih bingung. “Kupanggil mbak Tyas aja.” Rafa melesat ke kamar Tyas yang sedang menggambar. “Apa sih?! Belum waktunya makan siang kan?” Tyas menepis tangan yang ditarik adik semata wayangnya. “Ayah!” Rafa menunjuk kamarnya dengan isyarat. Ia tak bergeming dari sisi Tyas. Sambil menghela nafas, gadis kelas tiga SMU ini beranjak menemui Ayah dikamar Rafa.

Mereka bertiga duduk diranjang Rafa. Terdiam. Ayah belum mulai berbicara. Tyas dan Rafa saling melirik. Suara Sony menyalak dari kejauhan menyadarkan Ayah dari lamunannya. “Ada ususl kemana kita pergi membawa Sony?” Ayah berucap sambil tersenyum kaku. Entah Apa yang membuat Ayah bersikap ‘ramah’ hari ini. Sudah hampir setahun mereka tak pernah pergi bertiga. Setidaknya untuk jalan-jalan. Sudah hampir setahun mereka tak pernah saling bicara dengan suasana menyenangkan. Sudah hampir setahun Tyas dan Rafa merasa hanya memiliki satu sama lain tanpa ada Ayah. Sudah hampir setahun Ayah tak pernah mengungkapkan rasa sayang. Tidak dengan perkataan, tidak dengan bahasa tubuhnya. Sudah hampir setahun tak pernah ada gambar Ayah dalam buku sketsa Tyas. Semua memang berubah sejak kepergian Ibu. Ah Ibu, merindukanmu mengapa terasa begitu menyiksa? Bukankah kau berjanji saat ajal akan menjemput, kau akan selalu hadir untuk kami? Mengapa hatiku begitu sepi? Bagaimana aku akan mendampingi Rafa yang mulai remaja? Ia akan melewati masa yang sulit tanpamu, Bu. Tyas merasa matanya mulai dipenuhi air. Ia tak ingin menangis. Tidak didepan Rafa. “Ke pantai?” Tyas mencoba mencairkan suasana. Rafa mengangguk. Ayah tersenyum lembut. Senyum yang sudah lama tak menghiasi wajahnya. Tyas memandang Ayah yang mulai beranjak keluar. Baru ia sadari yang terlihat di wajah itu. Letih.

Ini Sabtu yang cerah. Cuaca menjelang siang yang hangat membuat Sony begitu bergembira berlarian di pasir pantai yang kelabu. Anjing jantan berbulu keemasan itu tentunya sangat gembira. Sudah lama ia tak mencium amisnya laut. Aroma yang sangat ia suka. Rafa bermain lempar kejar bola bersama Sony. Tyas berjalan bersama Ayah menyusuri pantai. Ayah masih tak banyak bicara. Ia hanya sesekali menatap anak gadisnya itu sambil tersenyum. Sesekali mereka melirik Sony dan Rafa yang begitu larut dalam kegembiraan. Ayah tiba-tiba memeluk pundak Tyas. Walau kaget Tyas gembira dan langsung memeluk pinggang satu-satunya orang tua yang masih ia miliki. Mereka larut dalam perasaan masing-masing. “Sudah lama Ayah tak memeluk kalian. Rasanya sudah terlalu lama. Ayah tak ingin lebih lama lagi. Ayah hanya punya kalian berdua.” Ada nada penyesalan dalam suara Ayah. Tyas tahu bagaimana perasaan Ayah. Itulah yang juga ia rasakan setahun belakangan. “Kalian sudah semakin besar. Ayah tak ingin kehilangan kalian.” Tyas mulai menitikkan air mata. “Aku merindukan Ibu…Tapi aku juga merindukan Ayah. Sekarang aku tahu, kami tak akan kehilangan Ayah.” Tyas membenamkan kepalanya dalam pelukan Ayah. Ah Ibu….

Tak terasa tiga jam sudah berlalu dan mereka melewatkan jam makan siang. Rasa lapar membuat mereka memutuskan memesan makanan sambil duduk santai dibawah payung lebar. Sony masih asyik berlarian. Tak puasnya ia bermain. Rafa tersenyum senang memandang kelincahan anjingnya hari ini. Makan siang hari ini adalah makan siang teristimewa. Istimewa karena mereka begitu gembira duduk dan makan bersama. Istimewa karena Ayah begitu berbeda dari sebelumnya. Tak ada nada kesal, marah tanpa sebab, maupun suara menggelegar. Duduk di meja makan menjadi sangat menyenangkan. Rafa makan dengan lahap sambil menyuapi Sony yang sesekali menghampiri. “Aku sayang padamu, Yah.” Rafa berucap sambil menggigit sepotong udang kesukaannya. Tyas memandang Ayah yang tertegun. “Ayah tahu belum menjadi Ayah yang baik untuk kalian. Kepergian Ibu terasa begitu menyakitkan. Ayah tak tahu bagaimana harus menjalani semuanya tanpa Ibu. Tapi sekarang Ayah tahu, Ayah punya kalian berdua walau tanpa Ibu. Ayah sayang kalian.” Tyas tersenyum. Ini adalah kalimat terpanjang Ayah sejak Ibu pergi. “Maukah Ayah melakukan sesuatu untuk kami?” Tyas bertanya sambil menatap Ayah penuh harap. “Katakan sayang. Akhir pekan saatnya kita untuk bergembira bersama.” Rafa menatap Tyas bingung. “Sudah lama Rafa menganjakku nonton bioskop.” Mata Rafa berbinar. Ia memang ingin tapi Tyas belum mengiyakan. “Sekarang waktunya!” Ayah berkata sambil melirik Rafa. Seakan tak percaya Rafa langsung memeluk Ayah. Tyas bertepuk tangan gembira. “Kalo gitu kita harus segera pulang dan bersiap ke bioskop nanti malam.” Rafa begitu bersemangat membuat Ayah dan Tyas tertawa bahagia.

Mereka bersiap pulang sambil memasukkan barang kedalam bagasi. Tentu saja sambil bercanda dan tertawa riang. Sony masih berlarian disekeliling mobil. “Sony, Masuk!” Rafa memerintah sambil membelai kepala anjing itu dengan sayang. Sony sigap melompat kedalam mobil. Tyas duduk disepan bersama Ayah yang menyetir. Rafa masih membersihkan pasir dari kakinya ketika matanya menangkap seorang anak kecil yang melempar-lempar bola diseberang jalan. Rafa melihat bola itu. Sangat mirip dengan milik Sony. Entah mengapa hatinya cemas. Ia melirik Sony. Anjing itu ternyata sedang melihat bola anak kecil diseberang jalan. Dengan sangat cepat Sony melompat dan berlari keseberang jalan! Rafa kaget. Ia mengejar sambil berteriak, “Sony, sini!” Sony tak peduli. Ia terus berlari kearah bola jingga kesayangannya. “Sony, kembali!!!” Anjing itu tak menoleh sedikitpun, bahkan semakin kencang berlari. Ia tak tahu jika bola miliknya sudah dimasukkan kedalam bagasi. Sony tepat menyeberangi jalan saat sebuah mobil melaju kencang. Rafa berhenti mengejar dan mematung menatap tak percaya. Jantungnya seakan berhenti berdetak. “Sonyyyyyyy!!!!!” Rafa berlari saat melihat tubuh Sony terpental dan mobil tersebut berhenti mendadak. Tyas dan Ayah berlari menyusul Rafa. Mereka menemukan remaja itu sudah berlutut disamping Sony yang terkulai tak bergerak. Orang mulai berkerumun. Pengendara mobil tersebut juga berdiri mematung. Tyas bergidik. Ayah langsung menggapai Rafa yang diam tak bergeming memeluk Sony yang masih belum bergerak. Suasana mulai ribut, tapi Tyas merasa begitu dingin. Udara yang semula hangat mulai dingin. Rasanya seperti setahun yang lalu. Ia melihat tubuh Sony yang terkulai bersimbah darah. Mengapa terlihat seperti Ibu? Ibu….jangan pergi! Ibu….Tyas merasa kakinya tak mampu menyangga tubuh lagi. Semuanya kemudian gelap.

Tyas membuka mata dan melihat Ayah disisinya. “Syukurlah kau tak apa.” Ayah memeluk Tyas khawatir. “Tunggu disini, ya.” Ayah beranjak keluar. Tyas ada dimobilnya. Ia melihat banyak orang disitu. Ayah berbicara dengan beberapa orang kemudian memeluk Rafa yang menangis keras. Rafa berteriak sedih dalam pelukan Ayah. Tyas seperti tak mendengar suara sama sekali. Ia hanya melihat Ayah. Sosok yang hampir setahun ini begitu tak ia kenali, sekarang menjadi Ayah yang siaga. Rafa masih menangis di bahu Ayah. Ah Ayah… kami memeang kehilangan Ibu. Tapi kami memilikimu. Apa jadinya kami tanpamu Ayah? Kau Ayah yang luar biasa. Kau menjadi Ayah sekaligus Ibu buat kami. Ibu memang telah pergi. Sony pun mungkin pergi. Tapi mereka tetap hidup di hati. Mereka tidak akan berlalu begitu saja.

Oleh Maggie Ajie

Yogyakarta 19 April  2017

Cerita ini adalah salah satu cerita dalam antologi kedua saya berjudul Bahu Kokoh Itu Milik Ayah